13 Juni 2020. Saat itu pertengahan pandemi, kubuka sebuah sosial media bergambar burung. Berselancar pada berandanya. Seperti biasa, aku seringkali mengisi ke- gabut- an dengan menyukai atau me- reply cuitan orang-orang. Random saja. Akun bernama Kala, waktu itu membuat sebuah challange di cuitannya. Aku reply saja, pikirku saat itu hanya iseng. Tak lama berselang terdapat direct message darinya. Kubalas, saat itu berisi challange yang sebenarnya "harus" aku ikuti rule- nya, namun dengan dalih -meskipun memang sebenarnya aku tak mahir- tidak memahami bahasa Inggris, aku menanyakan artinya dan akhirnya tidak kuikuti rule yang sudah ada. Anggap saja sksd, ha-ha-ha. Chat pada DM Twitter terus berlanjut, bertanya hal yang tak penting sampai yang biasa saja, layaknya orang-orang pada umumnya. Sampai suatu saat, seringkali gawaiku error saat membuka sosial media tersebut, akhirnya kuputuskan untuk berpindah ruang ke Instagram. Percakapan panjang terjadi. Hingga pada akhirnya, men...
Menghempas Kemudian bersarang dalam kekosongan. Dunia ini enggan bersedekap. Kepada sebuah peradaban yang alami. Terlanjur tangan membusuki alam. Hingga lanjut pada kericuhan. Keresahan. Kebiadaban. Terserap dalam imaji-imaji dewa. Mengharapkan abadi. Menginginkan sempurna. Tapi sayang, semua hanya sebatas kata. Karena sebuah luka Semua tak tercerna. Semua tersendat dalam batu angkara. Akal pun menjadi bisu. Buntu. Dibolak-balikkan oleh logika. Sehingga mati. Terkurung oleh rerimbunan jahanam. Biarkan malaikat berseru. Membimbing putih dari hitam. Lewat risalah sang manusia. Putih. Hitam. Putih. Hitam. Bumi kelabu. Terbang di semesta alam. Ngawi, 20 Januari 2016
Seperti halnya api yang membutuhkan udara Aku juga terkadang butuh sokongan agar terus menyala, berkibar merdeka, tapi tidak melahap sekitarku Semua orang tau, tiada makhluk di muka bumi ini yang tidak mampu, seperti halnya seorang rakyat kecil yang memimpin sebuah negara besar. Akan tetapi, apakah ia mampu menghadapi permasalahan mulai dari dirinya sendiri hingga masyarakat? Jaman sekarang itu jaman pencitraan, segala hal yang berkaitan kepada seseorang yang sebenarnya tidak terlalu baik atau biasa saja, selalu terliput oleh media. Akan tetapi, mereka yangbl tulus dan benar-benar baik, selalu terluput oleh media. Sebenarnya peran media itu penting sekali. Ya. Mengapa kukatakan seperti itu? Karena segala informasi terangkum menjadi satu dan menjadi informasi yang tersebar di segala pelosok negri. Akan tetapi, tidak semua informasi yang kita peroleh dari suatu media itu benar-benar realita. Kenapa begitu? Karena walau memang realita, berita yang diliput terkadang objektif dan lebay ...
Komentar
Posting Komentar