Menghempas Kemudian bersarang dalam kekosongan. Dunia ini enggan bersedekap. Kepada sebuah peradaban yang alami. Terlanjur tangan membusuki alam. Hingga lanjut pada kericuhan. Keresahan. Kebiadaban. Terserap dalam imaji-imaji dewa. Mengharapkan abadi. Menginginkan sempurna. Tapi sayang, semua hanya sebatas kata. Karena sebuah luka Semua tak tercerna. Semua tersendat dalam batu angkara. Akal pun menjadi bisu. Buntu. Dibolak-balikkan oleh logika. Sehingga mati. Terkurung oleh rerimbunan jahanam. Biarkan malaikat berseru. Membimbing putih dari hitam. Lewat risalah sang manusia. Putih. Hitam. Putih. Hitam. Bumi kelabu. Terbang di semesta alam. Ngawi, 20 Januari 2016
Mabuk di enggang lalu Anyelir rasa menjalar untuk tahu Usahkan aku mencari Lantas sapa datang tanpa beri Irama waktu menjadi candu Namamu bermuara pada ujung sadarku Detak menjadi pacu untuk berkata "Aku taruh rasa untukmu" Awan yang berbicara tentang suasana Kau tunjukkan satu cumulus nimbus Hinggap di pelataran langit gelap Ia ada diantara obrolan kita Resap dan harap salam untuk bahagia Indahkan bahasa isyaratmu Yang berada di ambang cakrawala Alam kita tak pernah habis dibawa Narasi hidup tanpa henti sebab jiwa Hay Linda Ikat aku pada semesta Dekap aku sedalam samudera Ambil dan bawa sukma ini Yang berdiam sepi Agar tiada pergi dan hilang ditikam sunyi Hingga dunia tak kita singgahi Rasaku bukan lagi rahasia, Lin Agar waktu tak menyekapku Cemasku sudah membisu, Lin Hilang diburu percaya Maka kutunggu jawab pasti dari lubuk hati Agar langkah kita bukan hanya sekedar Namun ia berjalan dengan beriringan September 2018
Bertutur sebuah masa Yang mengelabui pikiran massa. Dari perawak seorang jenaka Ia membuai ruang dengan kata Berjibaku dengan dingin Dan kantuk yang menggelora. Tuhan, aku masih buta. Dengan naskah yang rancu Tak tau skema dan alurnya. Riuh tawa kadang menggelagat Mengisi suasana kosong malam itu. Dari cahaya bermahkota drama Di ujung penghelatan malam. Ada sesuatu yang tertinggal. Dialah rindu. 1 Maret 2017
Komentar
Posting Komentar