Postingan

Menampilkan postingan dengan label Serumpun Kisah

Selamat Pagi

Apa sih yang diinginkan dari perasaan itu? Memiliki? Apakah aku harus memilikinya? Sulit sekali memang menjaga rasa yang sudah masuk dalam rongga-rongga jiwa. Melontarkannya pun terkadang tersekat diujung kerongkongan. Apalagi jika bertemu dengan dia, sulit rasanya memindah arah mata. Indahmu selalu kupandangi dari sudut cahaya yang masuk ke dalam bola mataku. Di dalam kelas pula kadang fokusku beralih padamu. Hingga terkadang aku lupa akan tugas dari bapak/ibu dosen yang mengisi jam kuliah saat itu. Ah, manisnya dirimu saat kupandang. Senyum yang merona selalu menghiasi paras ayumu. Tapi, ah sudahlah. Aku hanya penikmatmu dari sisi gelapku. Tak mungkin kuungkap dalam rangkaian puisi atau pun lainnya. Biarkan perasaan ini menggebu dan ku kerangkeng hingga akhirnya kau yang membukakannya. Selamat pagi asmaraku. Di langit Yogyakarta yang sendu. Ada kamu yang mulai menghiasi setiap sudut hatiku.

Jomblo Itu Prinsip

Akhir-akhir ini, banyak sekali pemuda dan pemudi yang berharap memiliki pasangan atau biasa disebut juga pacar. Entah mengapa, pacaran itu sendiri kini menjadi hal yang lumrah dalam sebuah kehidupan remaja saat ini. Akan tetapi, bagaimanakah sikap mereka ketika pacaran? Ada saja yang secara terang-terangan memperlihatkan kemesraan mereka, ada pula yang diam-diam tapi ternyata menghanyutkan. Di sisi lain, bagaimanakah para jomblo itu? Jomblo itu bukan nasib, akan tetapi jomblo itu pilihan. Lumrah saja jika seorang wanita mencintai lelaki atau sebaliknya. Tapi bagaimana cara menyikapi perasaan tersebut yang terkadang mengganggu pikiran dan membuat kita terkadang gagal fokus? Bahkan kebanyakan remaja saat ini mengungkapkan perasaan mereka kepada sang lawannya. Jika memang sudah diungkapkan, apakah kita yakin bahwa orang menerima ungkapan perasaan kita itu akan menjadi teman hidup kita? Jodoh itu tak ada yang menduga. Ada yang sudah dipersiapkan sebagai jodoh tapi tidak jodoh dan orang ya...

Kebisingan hati

Kini saatnya melangkah kembali. Tapi, aku tengah timpang dalam ombang-ambing yang tak menentu. Antara aku, jiwaku dan duniaku. Mereka berurai kembali. Kebodohan apa lagi yang kulakukan? Acap kali aku tanpa pemikiran. Dangkal. Keabstrakanku dalam sikap di mata umum. Entahlah, aku tak ingin ada pencitraan dalam kehidupanku. Entah baik atau burukku, itulah aku. Biarkan mereka yang menerimaku apa adanya saja. Tapi sosialisasiku takan pernah mati untuk terus berkawan. Terkadang memang ada beban yang diterima setelah aku lepas dari sebuah lembaga. Apalah daya, aku hanya seorang yang tak mau berjalan lurus-lurusan saja. Tantangan, kehidupan asing yang entah apa isinya ingin aku lihat. Tanpa rasa. Tanpa harus aku membasahi dan menceburkan diriku dengan mereka. Cukup saja aku bergaul dalam batasan kehidupan. Meski begitu, aku tentu masih bertujuan. Aku tak malu akan statusku saat ini. Hanya saja, mereka yang awam akan kerasnya alur kehidupan dan pendirian seseorang takan pernah bisa paham sia...

Sudut Yogyakarta

Setiap senja, seringkali aku terlamun oleh berbagai permasalahan yang semakin dewasa semakin berbobot. Tapi di setiap sudut Jogja, aku lihat ada banyak tempat untuk menetralisirkan semua pikiran itu, sehingga sebuah permasalahan dapat terurai dengan jernih. Setiap sudut Jogja, aku memandang gemintang di langit yang selalu cerah, walau tak selamanya. Akan tetapi, catatanku ini hanya imaji yang seringkali terangkai dalam sudut kota pikiranku. Tetap saja Yogyakarta itu istimewa, sebagaimana rupa masyarakatnya dan juga keelokan alamnya, ranah yang masih asri akan budaya yang tergenggam erat. Sejarahku kini terurai di Yogyakarta. Dimana salah satu mimpiku tercampakan di ranah ini. Budaya yang aku kagumi, seni yang selalu merasuk dalam jiwaku. Walau terkadang aku awam atas semuanya, tapi apa salahnya kita terus belajar dan belajar hingga status awam itu tersisihkan. Salamku menyertai segala yang ada di sini, semoga kelak impian yang tercampak dan tergantung di langit Jogja dapat tergapai...

Fajar Di Langit Yogyakarta

Sejak Juli, kakiku sudah mulai melangkah di daratan Yogyakarta, setelah 4 jam lamanya perjalanan rumahku menuju Yogyakarta yang penuh dengan tanda tanya. Yang pasti, kakiku melangkah untuk menatap kehidupan yang baru di kota yang tak pernah kutinggali. Selagi jasmani masih sanggup untuk bergerak, kan aku sambangi setiap sudut kota Yogyakarta. Kan kupelajari segala budaya, kubaurkan dan kutulis dalam lembaran-lembaran kisah hayatku. Yogyakarta, kota istimewa bergudang cerita. Hamparan masyarakat yang membuana. Yang mengalunkan syahdu kekerabatan. Selamat datang Yogyakarta, di dalam kehidupanku.