Postingan

Kebisingan hati

Kini saatnya melangkah kembali. Tapi, aku tengah timpang dalam ombang-ambing yang tak menentu. Antara aku, jiwaku dan duniaku. Mereka berurai kembali. Kebodohan apa lagi yang kulakukan? Acap kali aku tanpa pemikiran. Dangkal. Keabstrakanku dalam sikap di mata umum. Entahlah, aku tak ingin ada pencitraan dalam kehidupanku. Entah baik atau burukku, itulah aku. Biarkan mereka yang menerimaku apa adanya saja. Tapi sosialisasiku takan pernah mati untuk terus berkawan. Terkadang memang ada beban yang diterima setelah aku lepas dari sebuah lembaga. Apalah daya, aku hanya seorang yang tak mau berjalan lurus-lurusan saja. Tantangan, kehidupan asing yang entah apa isinya ingin aku lihat. Tanpa rasa. Tanpa harus aku membasahi dan menceburkan diriku dengan mereka. Cukup saja aku bergaul dalam batasan kehidupan. Meski begitu, aku tentu masih bertujuan. Aku tak malu akan statusku saat ini. Hanya saja, mereka yang awam akan kerasnya alur kehidupan dan pendirian seseorang takan pernah bisa paham sia...

Intan 2

Sepertinya Intanku tengah pudar Seiring senja yang menutup hari Juga ia yang menutup diri         Baru saja sapa datang         Kini lambaiannya sudah tak terlihat         Tinggal bayang yang terkenang Maaf jika rasaku berlebih Anganku juga amat jauh Hingga lenganku tak meraih         Selamat tinggal         Entah itu kata yang tepat,         ataukah         Sampai jumpa         Jika saja temu kembali menyapa         Antara aku dengannya. Ngawi, 28 Juni 2016

Intan

Baru sekejap bertemu Cepat saja pertemuan berlalu      Tak sampai seharian aku berkenalan       Perpisahan menyambut begitu saja Sayangnya, aku langsung merasamu Tapi engkau seperti bunga putri malu Yang menguncup keteka tersentuh        Ketika kutanya perilah pemilik rasamu        Jawabmu, pemiliknya ada di sana         Di tempat kota kita bertemu, Yogyakarta Sayangnya, aku tak mau miliki rasa sekarang Aku tengah ingin bersunyi dengan rasa :bersama angin yang berkelana :bersama angan yang melambai di awan Bersama diriku sendiri Di tengah keramaian jiwa. Ngawi, 9 Juni 2016

Jurnalis Dan Dunia Saat Ini

Seperti halnya api yang membutuhkan udara Aku juga terkadang butuh sokongan agar terus menyala, berkibar merdeka, tapi tidak melahap sekitarku Semua orang tau, tiada makhluk di muka bumi ini yang tidak mampu, seperti halnya seorang rakyat kecil yang memimpin sebuah negara besar. Akan tetapi, apakah ia mampu menghadapi permasalahan mulai dari dirinya sendiri hingga masyarakat? Jaman sekarang itu jaman pencitraan, segala hal yang berkaitan kepada seseorang yang sebenarnya tidak terlalu baik atau biasa saja, selalu terliput oleh media. Akan tetapi, mereka yangbl tulus dan benar-benar baik, selalu terluput oleh media. Sebenarnya peran media itu penting sekali. Ya. Mengapa kukatakan seperti itu? Karena segala informasi terangkum menjadi satu dan menjadi informasi yang tersebar di segala pelosok negri. Akan tetapi, tidak semua informasi yang kita peroleh dari suatu media itu benar-benar realita. Kenapa begitu? Karena walau memang realita, berita yang diliput terkadang objektif dan lebay ...

Sampai Jumpa

Selamat datang Mati kita semai benih cahaya Hingga benderang telah selimuti Dan menyemi di kerajaan Namun, Sampai jumpa Kerajaan kita disini Telah benderang Mengakar ke penjuru bumi Jauhari Mari kita buat kerajaan baru Di bumi kita sendiri Selamat jalan. Yogyakarta, 29 Mei 2016

Ketika Mata Tertutup

Di saat matahari menyenja Kau ulumkan senyum terakhir Sebelum akhirnya tertutup menuju malam Kau anggukkan sinarmu yg memijar Kemudian hilang ditelan kabut dan awan Ketika itu, purnama mulai berbinar dari cahaya mentari yg terkatup Yang telah lama membagi cahaya Untuk bumi dan alam lainnya Dan ketika mata terkatup Tiada lagi surya Tiada lagi senja Tiada lagi purnama Hanya tersisa gulita yg merana (Madura, 18 Maret 2016)

Sudut Yogyakarta

Setiap senja, seringkali aku terlamun oleh berbagai permasalahan yang semakin dewasa semakin berbobot. Tapi di setiap sudut Jogja, aku lihat ada banyak tempat untuk menetralisirkan semua pikiran itu, sehingga sebuah permasalahan dapat terurai dengan jernih. Setiap sudut Jogja, aku memandang gemintang di langit yang selalu cerah, walau tak selamanya. Akan tetapi, catatanku ini hanya imaji yang seringkali terangkai dalam sudut kota pikiranku. Tetap saja Yogyakarta itu istimewa, sebagaimana rupa masyarakatnya dan juga keelokan alamnya, ranah yang masih asri akan budaya yang tergenggam erat. Sejarahku kini terurai di Yogyakarta. Dimana salah satu mimpiku tercampakan di ranah ini. Budaya yang aku kagumi, seni yang selalu merasuk dalam jiwaku. Walau terkadang aku awam atas semuanya, tapi apa salahnya kita terus belajar dan belajar hingga status awam itu tersisihkan. Salamku menyertai segala yang ada di sini, semoga kelak impian yang tercampak dan tergantung di langit Jogja dapat tergapai...