Postingan

Membuka Kembali Sunyi

Secangkir kopi menemani malam liarku Dengan keramaian kendaraan lalu lalang Dan tembakau yang masih diam di bungkus plastik hitam. Pikiranku merajut hal langka. Yang sudah tiga tahun lamanya tak ada sua. Tentang rasa yang dilontarkan terang. Sosok wanita berkacamata memaksaku untuk berkata. Maka kususun kalimat agar tak ada salah padanya. Ia sangsi tentang aku Segala jawab kulontarkan dengan terbuka. Tak ada rahasia malam ini Hanya kesunyian saja yang merasuki aku. Meski telah kubuka segala cerita. Musik di kafe bak tak terdengar. Karena sepi masih menyelimuti diri. Sampai jumpa, hati. Kembali kusimpan kau di kesunyian. Rahayu Roaster, 7 Agustus 2017

Octa, Sebuah Angka Yang Tak Sampai

Ada delapan, di balik mimpi dan waktu. Ada delapan, dalam hitungan jarak. Entah sampai kapan delapan menjelma rasa. Mungkin masih di mata terletak cinta. Tapi, ada saatnya turun menuju hati dan menjalur ke otak. Membuat angka delapan selalu terpikir dalam sunyi. Lewat bingkai-bingkainya. Aku pandangi wajah ayu itu. Sambil menggumam, engkau memang kekasih idaman. Bila saja waktu adalah sebuah jalan. Dan jarak adalah kertas. Kan kulipat kertas itu tuk menelusuri jalanmu. Tunggu, masih ada mimpi. Yang membuat tiada terasa nyata. Indah memang, dengan parasnya yang penuh pesona. Mengalirkan darah untuk berpacu rasa dengannya. Apalagi senyum yang mekar. Menjelma rindu yang sama halnya mimpi, hampa. Dia tiadalah bagiku. Hanya sekedar. Angka delapan yang tak mungkin terpeluk. Yogyakarta, 27 Juli 2017

Ibu

Ibu , kau bukan hanya sekedar tepat untuk pulang. Lebih dari itu, kembalinya aku adalah padamu. Lelahmu bukan sekedar keringat. Karena darah pun kau rela menetes demi aku. Tak ada keluh Tak ada resah Hanya doa dan harap yang kuterima Juga perjuangan kata-katamu Yang ditelan oleh telingaku Serta dicerna oleh hati dan pikiran Hingga luluh menjadi air mata kehidupan. Yogyakarta, 15 Juni 2017

Kesetiaan Malam

Malam larutkan sadar manusia Irama angin goyangkan dedaunan Terlihat bintang menjadi kala yang berganti Disusupi imaji dengan secangkir kopi. Bahasa tertutur bersama gelak tawa. Kemudian asap-asap rokok berkibar dan hilang bersama udara. Tanda gelisah terbuang bersama lelah. Dendang lagu menggema di warung-warung kopi. Diselingi obrolan dan canda para penikmatnya. Banyak juga orang-orang yang menitipkan resah lewat alam mimpi. Juga lewat jinjitan-jinjitan jemari di atas lembar sajadah. Malam, sunyimu kian merambat Sekujur ruang semakin rapuh Namun, kau tetaplah malam. Yang setia dengan kegelisahan dan curhatan makhluk Tuhan. Yogyakarta, 14 Juni 2017

Buat Ibu Pertiwi

Biarkan petani mematung menjadi orang-orangan sawah. Demi mempertahankan mata kehidupan mereka dari penjajah. Pertaruhan wewenang memang gila. Bersandar pada tumpukan uang yang meraja. Indonesia, tanah air kita. Tanah air yang penuh air mata. Pilu dengan mayat yang digerogoti saudara. Terik matahari adalah sahabat setia. Ia sabar dengan diam di atas kepala. Tuan, jangan renggut lahan kami. Karena warisan harga mati. Tuan, jangan kau buat tangis ibu pertiwi. Karena merdeka bukan sekedar membuat penjajah lari. Yogyakarta, 8 Mei 2017

Usang

Biarkan aku bagian dari keusangan. Tapi ketahuilah, bahwa hal yang usang akan selalu dirindukan. Seperti sawah yang berubah menjadi gedung. Akan banyak orang rindu dengan hijau yang menghampar. Seperti hutan yang bermacam tumbuhan diganti dengan kebun sawit. Karena rindu juga hal usang yang berdiam diri di dalam rasa. Yogyakarta, 8 Mei 2017

Senja

Senja bisa saja menggila. Akhirnya menjadi rasa. Kemudian mendekap di relung jiwa. Frame 1: di Plered, Cirebon kutemukan senja yang bersembunyi di balik rindang pohon. Sebab jiwanya tak berhenti bergumam tentang bingkaian rindu. Frame 2: lagi, di ufuk barat, dalam perjalanan dari Semarang menuju Yogyakarta. Senja menyambut lelahku bersama motor tua yang setia kududuki. Meskipun dalam keadaan menyetir, kusempatkan tangan kiriku memotret sambutan senja yang hangat. Frame 3: dan lagi, senja belum mau tenggelam, seakan ia menemaniku sampai pada jalanan yang penuh rimbunan pohon. Menghabiskan jalanan yang diapit oleh sawah hijau merona. Ah, seperti gambarku sewaktu kecil. Sawah yang dibelah oleh jalan raya dsn diujungnya terdaoat bukit. Frame 4: itulah rindu, bingkai senja yang menghangatkan jarak pandang. Meski lelah menerkam raga dan pikiran. Dan saat itu, aku ingin bisa merasakan bagaimana bila aku menikmati senja bersamamu. Menghabiskan mendung menjadikan langit biru ataupun langit ...