Mabuk di enggang lalu Anyelir rasa menjalar untuk tahu Usahkan aku mencari Lantas sapa datang tanpa beri Irama waktu menjadi candu Namamu bermuara pada ujung sadarku Detak menjadi pacu untuk berkata "Aku taruh rasa untukmu" Awan yang berbicara tentang suasana Kau tunjukkan satu cumulus nimbus Hinggap di pelataran langit gelap Ia ada diantara obrolan kita Resap dan harap salam untuk bahagia Indahkan bahasa isyaratmu Yang berada di ambang cakrawala Alam kita tak pernah habis dibawa Narasi hidup tanpa henti sebab jiwa Hay Linda Ikat aku pada semesta Dekap aku sedalam samudera Ambil dan bawa sukma ini Yang berdiam sepi Agar tiada pergi dan hilang ditikam sunyi Hingga dunia tak kita singgahi Rasaku bukan lagi rahasia, Lin Agar waktu tak menyekapku Cemasku sudah membisu, Lin Hilang diburu percaya Maka kutunggu jawab pasti dari lubuk hati Agar langkah kita bukan hanya sekedar Namun ia berjalan dengan beriringan September 2018
Senja bisa saja menggila. Akhirnya menjadi rasa. Kemudian mendekap di relung jiwa. Frame 1: di Plered, Cirebon kutemukan senja yang bersembunyi di balik rindang pohon. Sebab jiwanya tak berhenti bergumam tentang bingkaian rindu. Frame 2: lagi, di ufuk barat, dalam perjalanan dari Semarang menuju Yogyakarta. Senja menyambut lelahku bersama motor tua yang setia kududuki. Meskipun dalam keadaan menyetir, kusempatkan tangan kiriku memotret sambutan senja yang hangat. Frame 3: dan lagi, senja belum mau tenggelam, seakan ia menemaniku sampai pada jalanan yang penuh rimbunan pohon. Menghabiskan jalanan yang diapit oleh sawah hijau merona. Ah, seperti gambarku sewaktu kecil. Sawah yang dibelah oleh jalan raya dsn diujungnya terdaoat bukit. Frame 4: itulah rindu, bingkai senja yang menghangatkan jarak pandang. Meski lelah menerkam raga dan pikiran. Dan saat itu, aku ingin bisa merasakan bagaimana bila aku menikmati senja bersamamu. Menghabiskan mendung menjadikan langit biru ataupun langit ...
Tuhan, adakah ruang hampa selain hati? kemunafikan seakan meresap di tubuh bumi balutan sabda nabi sudah tak berarti kulihat hanya temaram di sisi gelap dunia cakrawala menjadi tak sempurna ricuh tentang-Mu tentang risalah-risalah buta dari manusia mengatasnamakan keadilan namun, aku merasa belum adil pada diriku menganiaya dalam keheningan diancam dalam kekosongan Tuhan, jika kelak kain kafan adalah pakaianku yang paling mewah jadikan kain itu jubah setiap saat dan izinkan Kau membatik cahaya di setiap sudutnya dunia bukan lagi singgasana kuasa jadi angkara harta membuat murka dan wanita-wanita dijadikan jenaka Tuhan, maaf aku pernah hilang tapi sudah ikrarku menjadikanmu sebagai mahkota sebelum akal menjadi raga sebelum raga digerakkan sukma sebelum sukma mengisi jiwa sampai jiwa tak lagi mengenyam dunia pada ruang tak kasat mata aku sembahyang sedekap di pembaringan dan lantunan alif-Mu melengking aku hilang Timoho, 28 Mei 2018
Komentar
Posting Komentar